Jumat, 19 Februari 2016

Pura Gunung Kawi Makam Raja Jaman Dinasti Marwadewa

Pura Gunung Kawi 
Makam Raja Jaman Dinasti Marwadewa

            Pura Gunug Kawi secara etimologi dapat diambil dari dua kata yaitu “Gunung” dan “Kawi”  dimulai dari kata “Gunung”, yang berarti tumpukan tanah yang tinggi yang memiliki puncak (pegunungan) dan “Kawi”, yang berarti pahatan, sehingga Gunung Kawi mempunyai arti sebagai pahatan yang terdapat di pegunungan atau Candi yang dipahat di atas gunung. Pura Gunug Kawi terdapat di kabupaten Gianyar, Tepatnya terletak di Sungai Pakerisan, Dusun Penangka, Desa Sebatu, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar, Bali. Candi ini ditemukan oleh peneliti Belanda sekitar tahun 1920 oleh Residen H.T. Damste.

pura gunung kawi
Gambar sejarah gunung kawi


            Menurut sejarahnya Pura Gunung Kawi  ini dibangun kira-kira pada abad ke-11 Masehi yaitu pada masa kepemerintahan Raja Udayana. Raja Udayana berpermaisuri seorang puteri dari Jawa yang bernama Gunapriya Dharma Patni. Dari pernikahan Raja Udayana dan Putri Gunapriya Dharma Patni melahirkan tiga orang putra bernama Erlangga, Marakata dan  Wungsu. Pada saat dewasa putra sulung dari Raja Udayana, yaitu Airlangga pergi ke Jawa Timur kemudian diangkat menjadi Raja Kediri menggantikan kakeknya yaitu Mpu Sendok.

pura gunung kawi
Gambar sejarah gunung kawi

            Diceritakan Raja Udayan pun wafat, Saat Raja Udayana wafat, tahta kerajaan pun  diserahkan kepada putranya yaitu Raja Marakata yang kemudian diteruskan kepada Raja Wungsu. Raja Marakata lalu membangun Candi Gunung Kawi sebagai tempat pemujaan bagi arwah sang ayah, Raja Udayana yang merupakan salah satu raja terkenal di Bali yang berasal dari Dinasti Marwadewa. Salah satu bukti arkeologis untuk menguatkan asumsi tersebut adalah tulisan di atas pintu-semu yang menggunakan huruf Kediri yang berbunyi “haji lumah ing jalu” yang bermakna sang raja yang disemayamkan di Jalu. Raja yang dimaksud adalah Raja Udayana. Sedangkan kata jalu yang merupakan sebutan untuk taji (senjata) pada ayam jantan, dapat diasosiasikan juga sebagai keris atau pakerisan. Nama Sungai Pakerisan atau Tukad Pakerisan inilah yang kini dikenal sebagai nama sungai yang membelah dua tebing Candi Kawi tersebut.

pura gunung kawi
Gambar sejarah gunung kawi


            Selain cerita tentang Raja Udayana yang merupakan cikal bakal berdirinya Pura Gunung Kawi di masyarakat juga beredar cerita tentang Kebo Iwa orang yang sakti madraguna. Deceritakan Kebo Iwa menggunakan Kukunya yang tajam dan kuat untuk membuat lubang-lubang dinding di candi batu cadas tersebut.

            Di dalam  Pura Gunung Kawi Tampaksiring ini  terdapat makam Raja Wungsu anak  Raja Udayana serta makam Ayahnya Raja Udayana, sehingga tak heran bila kompleks pura ini disebut pula sebagai makam Dinasti Warmadewa. Pada Pura Gunung Kawi  berada Di antara areal persawahan bertingkat dengan sistem irigasi tradisional subak, terdapat 10 candi yang dipahat pada dinding tebing batu pasir. Untuk menuju ke pura kita harus menuruni sekitar 320 anak. Ada 3 pura bernama Gunung Kawi di Bali, kebetulan semuanya berada di kabupaten Gianyar. Seperti halnya Pura Gunung Kawi Tampak Siring, Pura Gunung Kawi Sebatu merupakan obyek wisata yang terkenal