Kamis, 25 Februari 2016

sejarah Pura Luhur Batukaru Jejak Kekalahan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti Raja Buleleng


pura luhur batukaru, sejarah  pura luhur batukaru
 gambar pura luhur batukaru


Sejarah Pembangunan Pura Luhur Batukaru
Pura Luhur Batukaru dibangun pada abad ke-11 oleh seorang Mpu yang datang dari Pulau Jawa yaitu Mpu Kuturan.

Pura Luhur Batukau sering digunakan untuk meditasi memperoleh kedamaian rohani dan untuk mencapai keseimbangan hidup dengan cara menjaga keseimbangan jiwa, laut, hutan, danau, bumi, dan individu.

Pura Luhur Batukaru adalah pura sebagai tempat memuja Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Maha dewa.

Dewa yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dengan mempergunakan air secara benar, maka di Pura Batukaru ini disebut sebagai pemujaan Tuhan sebagai Ratu Hyang Tumuwuh atau Tuhan sebagai yang menumbuhkan.

Pura Batukaru juga adalah sebagai Pura Padma Bhuwana yaitu sembilan pura yang terdapat di sembilan penjuru Pulau Bali.

Pura Luhur Batukaru  terletak di kaki selatan Gunung Batukaru dari sanalah nama Pura Luhur Batukaru  berasal tepatnya di Desa Wongaya Cede, Penebel, Tabanan.

gambar ilustrasi raja buleleng, pura luhur batukaru
gambar ilustrasi perjalanan raja buleleng

Kisah Raja Buleleng Ki Gusti Ngurah Panji Sakti
Pada tahun 1959 Pura Luhur Batukaru direnovasi besar-besaran karena diceritakan tahun 1605 Masehi sumber berasal dari kitab Babad Buleleng.

Diceritakan Pura Luhur Batukaru pernah dirusak oleh  Raja Buleleng yang bernama Ki Gusti Ngurah Panji Sakti yang ingin memperluas wilayah dan menyerang kerajaan Tabanan.

Bersama dengan prajuritnya memporak-porandakan Pura Luhur Batukaru. Tapi sesuatu terjadi  Ki Panji Sakti dan prajuritnya malah diserang oleh tawon banyak sekali galak dan menyengat yang datang entah dari mana, yang memukul mundur Ki Panji Sakti dan prajuritnya sehingga tidak bisa menyerang kerajaan Tabanan. baca juga: raksasa luh dan muani di Pura Gunung Lebah Ubud

gambar pura luhur batukaru
gambar pura luhur batukaru dulu dan sekarang

Renovasi Pura Luhur Batukaru
Lalu pada tahun 1977 direnovasi kembali hingga kembali Sampai sekarang  bentuk dan posisi pelinggih tetap asli seperti semula.

Bahkan, tak satu pun ada cat atau pewarna modern yang digunakan. Hal ini dikatakan penglingsir Pura untuk menjaga taksu pura agar tetap terjaga.

Artefak Kuno Di Pura Luhur Batukaru
Selain itu Anda juga akan menemui beberapa artefak kuno yang berupa Menhir dan Palinggih Kampuh (batu berukir atau berbentuk). Artefak-artefak tersebut tersebar di halaman depan Pura Luhur Batukaru ini.
 
gambar sejarah,patung pura luhur batukaru
gambar salah satu patung di pura luhur batukaru

Akan banyak ditemui bangunan menhir dan patung-patung karena pada zaman megalitikum, segala bidang kehidupan masyarakat berpusat pada penghormatan dan pemujaan kepada arwah nenek moyang.

Pada tahun 1928, seorang ahli ilmu arkeologi bernama Dr. R. Goris, pernah mengadakan penelitian di Pura ini
Goris banyak menjumpai patung-patung yang tipenya serupa dengan patung yang terdapat di Goa Gajah yaitu patung yang keluar pancuran air dari pusarnya. 

Bedanya patung di Goa Gajah berdiri, sedangkan yang di Pura Batukaru duduk bersila. Menurut Goris, patung yang terdapat di Batukaru sezaman dengan patung di Goa Gajah baca juga: Sejarah Pura Luhur Sejong Dapur Kebo Iwa


Pantangan di Pura Luhur Batukaru
Ada hal unik yang tidak boleh di langgar di Pura Luhur Batukaru yaitu tidak boleh mengajak anak kecil yang belum ketus gigi atau gigi yang belum tanggal.

Tidak ada sumber tertulis yang menyebutkan larangan ini tetapi masyarakat di Wongaya Gede, sama sekali tidak ada yang berani mencoba untuk melanggar larangan itu.

Menurut Jro Mangku Gede Teken pantangan ini tidak ada hubunganya dengan niskala atau alam gaib.

Dikatakan zaman dulu sebelum ada kemajuan transportasi pamedek pergi ke pura dengan jalan kaki menempuh jarak yang sangat jauh.

Belum lagi ada hutan belantara yang banyak binatang buasnya seperti Singa, Ular, Macan yang sewaktu-waktu bisa memangsanya.

Lebih rasional lagi, ketika ada orang sembahyang dengan khusuk tiba-tiba saja diriuhkan dengan tangisan anak yang tentu saja akan membuyarkan konsentrasi orang sembahyang.

Sanak-anak yang diajak ke pura pada akhirnya akan merengek-rengek minta susu sehingga membuat ibunya membuka gunung kembarnya dihadapan orang banyak, tentunya kurang sedap dipandang orang banyak.

"Logika itu masuk akal juga kalau dikaji dari sisi negatifnya tanpa kita mau tahu apa yang akan terjadi bila anak terus-terusan tidak boleh masuk pura yang penuh dengan nilai kesucian," Jro Mangku menjelaskan.


upacara puja wali di pura luhur batukaru
gambar upacara puja wali di pura luhur batukaru

Upacara Pujawali Di Pura Luhur Batukaru
Biasanya saat pujawali, tidak hanya pemedek dari daerah bali yang datang tapi karma dari Jawa, Lampung, dan Lombok juga akan ikut tangkil

Upacara di Pura Batukaru terbagi dalam dua bagian yaitu, pujawali dan upacara rutin pengrastitian subak, Pujawali digelar setiap Wraspati, Umanis, Dungulan atau Umanis Galungan, setiap 210 hari sekali.

Kepercayaan kepada roh leluhur  berdiam di puncak gunung dan bukit yang memiliki kekuatan gaib yang diyakini dapat menolak bahaya dan memberikan kesejahteraan.