Selasa, 19 Januari 2016

Tradisi Nyepeg Sampi Di Desa Asak Karangasem



           
Upacara Usaba Kaulu yang berlangsung setahun sekali bertepatan bulan `kaulu` sekitar bulan Januari atau Februari Ritual Usaba Kaulu Pecaruan Agung digelar di Dusun Asak, Desa Timbrah, Kecamatan Karangasem, Bali. Nyepeg Sampi /tebas sapi namanya, salah satu rangkaian kegiatan Usaba Kaulu yang tergolong dalam upacara Bhuta Yadnya (pecaruan) untuk menetralisisr alam wilayah desa dari gangguan mahkluk jahat.



Pelaksanaan ritual Nyepeg Sampi didominasi oleh para seke dehe-teruna Asak.Para terunanya mengenakan busana kain warna hitam dibalut saput warna putih dan diikat sabuk poleng (warna hitam-putih) dengan mengenakan destar warna merah tapi tanpa mengenakan baju serta Senjata yang digunakan untuk "nyepeg sampi" adalah jenis Belakas Sudamala yang khusus digunakan untuk ritual Usaba Kaulu. Pisau itu menggunakan bahan baku baja dan pegangan senjata itu terbuat dari perak. Sedangkan para teruninya mengenakan kebaya seragam brokat warna kuning dan kainnya warna-warni membawa bokor  dilengkapi sesajen kembang.

            Dimulai Jero Mangku mempersiapkan penataan banten di Pura Patokan, sementara para terunanya menyucikan sapi dengan sarana upacara dan menghiasnya dengan kain warna-warni di jaba Pura Puseh Sapi yang digunkan bukan sapi sembarangan, harus dicari sapi yang besar dan tanpa cacat dan juga harus berjenis kelamin jantan lengkap dengan buah pelirnya.Selain itu dipelihara satu minggu oleh pemuda dan sebelum dijadikan caru dibuatkan dulu banten dan upacara khusus. Disampaikan bahwa sapi yang dilepas lalu  dibunuh itu adalah sapi yang sudah diberkati Ida Betare sehingga tetesan darahnya itu selain sebagai caru juga untuk kesuburan dan kemakmuran.

            Seekor sapi diarak keliling desa diiringi gamelan Baleganjur dan diikuti oleh seluruh dehe-teruna dan krama Desa Adat Asak. Di Pura Patokan sapi diupacarai dengan mengelilingi Palinggih Patokan  sebanyak tiga kali

Setelah upacara di Pura Patokan, penyepegan sampi segera dimulai. Begitu sapi dilepas dari talinya  keluar dari pintu balai banjar langsung lari menuju arah selatan, melihat sapi telah keluar dari balai banjar, saat itu pula langsung dikejar sambil bersorak-sorai kegirangan oleh ratusan teruna sembari membawa blakas untuk disepeg serta diikuti oleh krama desa lainnya. Arah sapi berlari, memiliki makna sendiri. Kalau sapi berlari ke arah utara, mengandung arti kesuburan. Timur melambangkan adanya cahaya kebahagiaan. Selatan itu kemakmuran dan kebijaksanaan. Barat berarti adanya kegelapan di alam.


            Sembari berlari mengejar sapi, beberapa meternya tubuh sapi sudah dapat disepeg beramai-ramai oleh teruna, darah merah segar sapi pun muncrat, bahkan muncrat darahnya mengenai tubuh teruna. Baru berlari sekitar 100 meter ke arah selatan sapi gemuk akhirnya tumbang menghembuskan napas terakhir dan tergeletak di jalan raya.Kemudian sapi tersebut dicabik-cabik organ tubuhnya. Pertama kepala sapi  dipotong langsung dibawa ke banjar. Organ tubuh sapi lainnya menyusul dibawa ke balai banjar untuk dibuatkan bayang-bayang berbentuk  seekor sapi untuk diolah dijadikan bahan caru, dan sisanya diolah untuk dimakan megibung (makan bersama) bersama: teruna-deha, pecalang dan krama saing (karma desa).





            Disampaikan bahwa pecaruan itu penting dilakukan  untuk menetralisir kekuatan jahat para buta kala yang ada di sewewengkon Desa Asak. kalau tidak dilakukan bisa menimbulkan marabahaya kalau istilah Nak lingsir Gerubug Gering.



            Teropong amlapura/2015/ Prosesi Unik Pecaruan Agung Ngusaba Kaulu di Desa Adat Asak Karangasem, Ratusan Pemuda Beramai-ramai “Nyepegin” Sapi Jantan untuk Caru


Tidak ada komentar: