Minggu, 21 Februari 2016

Sejarah Mekepung, Balap Kerbau Dari Jimbaran

Sejarah Mekepung, Balap Kerbau Dari Jimbaran

gambar mekepung jembrana, bali
gambar mekepung jembrana, bali

Makepung yang pertama kali dilombakan pada tahun 1970-an, dahulu pakaian yang digunakan adalah pakain ala prajurit Kerajaan di Bali zaman dulu yaitu memakai destar, selendang, selempod, celana panjang tanpa alas kaki dan dipinggang terselip sebilah pedang yang memakai sarung poleng (warna hitam putih).

Tapi seiring berkembangnya jaman aturan dan kelengkapan dalam makepung ikut mengalami beberapa perubahan. Misalnya, baju yang dipakai sudah modern dan kerbau yang tadinya hanya seekor, sekarang menjadi sepasang. 

Kemudian, cikar atau gerobak untuk joki yang dulunya berukuran besar, kini diganti dengan yang lebih kecil Selain itu, kerbau peserta makepung sekarang juga lebih ‘modis’ dengan adanya berbagai macam hiasan berupa mahkota yang dipasang di kepala kerbau dan bendera hijau atau merah di masing-masing cikar.


Sejarah makepung di jembrana.

gambar mekepung jembrana, bali
gambar mekepung jembrana, bali
Mekepung dalam bahasa Indonesia berarti “kejar-kejaran” atau dunia lebih mengenal dengan nama Bullrace.

Berkembang sejak tahun 1930-an, berlokasi di desa Delod Brawah, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana.

Mekepung awalnya dimulai dari kehidupan masyarakat yang pada saat itu bertani, kegiatan petani pengolahan sawah mereka sebelum mereka menanam benih padi yang bajak lahan basah ke dalam lumpur dengan menggunakan bajak tradisional.

Saat berangkat ke sawah, pedati yang belum terisi muatan hasil panen akan terasa lebih ringan ditarik oleh pasangan kerbau tersebut.

Di sinilah sang kusir pedati mulai saling memacu kerbaunya hingga iring-iringan tersebut berubah menjadi ajang balap pedati menuju ke lokasi panen.

Balapan pedati pasca panen inilah yang kemudian menginspirasi adanya tradisi makepung di Jembrana .


Dampak positif tradisi mekepung.

Dengan digelarnya lomba mekepung ini, diharapkan dapat memberikan dampak yang baik terhadap pertanian dan peternakan, karena dengan diadakanya tradisi Mekepung ini, memberikan hal yang fositif untuk mencegah terjadinya alih fungsi lahan pertanian di jembrana.

Tradisi ini juga berdampak pada kegiatan masyarakat merasa terpacu untuk memelihara karbau agar bisa ikut berpartisipasi dalam lomba mekepung yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun.

Sekarang,Makepung telah menjadi salah satu atraksi budaya menarik yang banyak ditonton oleh para wisatawan termasuk turis asing.

Dimana Makepung kini telah menjadi salah satu agenda atraksi wisata di Bali khususnya untuk daerah jembrana.