Kamis, 24 Desember 2015

Berhenti gunakan kata haram untuk umat

JANGAN GUNAKAN KATA HARAM DAN KAFIR
 UNTUK UMAT LAIN


Berhenti gunakan kata haram untuk umat
Gambar. Berhenti gunakan kata haram untuk umat
Presiden Joko “Jokowi” Widodo akan merayakan Natal tahun ini di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.Hal tersebut dikatakan oleh Menteri Perdagangan Thomas Lembong saat memimpin rapat pembentukan panitia Natal Bersama Nasional 2015 di Kupang, NTT, Jumat, 27 November.

Tapi keluarnya kecaman haram mengucapkan natal atau ikut bagi umat islam, lalu apa yang akan jokowi lakukan??

Gambar. Berhenti gunakan kata haram untuk umat
Gambar. Berhenti gunakan kata haram untuk umat
Ketua Dewan Syura Front Pembela Islam Misbachul Anam meminta Presiden Joko Widodo tidak mengucapkan selamat Natal. Sebab, kata Misbach, Jokowi murtad atau keluar dari Islam jika mengucapkan selamat kepada umat Kristiani yang merayakan momen kelahiran Yesus Kristus tersebut.
"Haram hukumnya mengucapkan selamat Natal bagi orang Islam. Tak terkecuali bagi Presiden Jokowi," kata Misbach kepada Tempo,

Gambar. Berhenti gunakan kata haram untuk umat
Gambar. Berhenti gunakan kata haram untuk umat
Senada dengan FPI  “Umat Islam haram mengikuti perayaan Natalan bersama, karena mengandung unsur ibadah, sehingga akan merusak aqidah dan keimanan umat Islam. Bahkan ucapan Selamat Hari Natal,  jangan sampai diucapkan oleh umat Islam” Nasihat Ketua MUI KH.Ma’ruf Amin dalam jumpa pers di kantornya di Jalan Proklamasi nomor 51, Jakarta Pusat, Rabu (19/12).

Gambar. Berhenti gunakan kata haram untuk umat
Gambar. Berhenti gunakan kata haram untuk umat
Berbeda dengan FPI Direktur Wahid Institute Yenny Wahid mengatakan bahwa pemberian ucapan Natal kepada masyarakat nasrani tidak akan melunturkan keyakinan yang dimiliki seseorang. "Kita, kan, harus percaya diri dengan keyakinan kita. Ucapan Natal tidak melunturkan keyakinan seseorang, kan," katanya, saat dihubungi, 20 Desember 2014.

Gambar. Berhenti gunakan kata haram untuk umat
Gambar. Berhenti gunakan kata haram untuk umat
NAHDHOTUL ULAMA dan MUHAMMADIYAH memberikan sikap yang tidak berbeda meskipun keduanya tidak secara resmi mengeluarkan fatwa tentang ucapan selamat Natal,namun pendapat dari tokoh-tokoh besar dari NU dan Muhammadiyah menyatakan akan kebolehan mengucapkan selamat Natal,seperti yang dikatakan Din Syamsuddin mantan ketua PP Muhammadiyah,"selama hal itu tidak memengaruhi aqidah umat Muslim maka mengucapkan selamat Natal dapat dilakukan"

Gambar. Berhenti gunakan kata haram untuk umat
Gambar. Berhenti gunakan kata haram untuk umat
Menjelang Natal dan tahun baru, belasan aktivis Front Pembela Islam (FPI) berkeliling mendatangi mal-mal besar di Surabaya. Mereka mengendarai sepeda motor dan berorasi sebentar di depan mal, dimulai dari Mal Galaxy di kawasan Surabaya Timur. FPI juga mengajak umat Islam tidak mengucapkan, mengikuti, dan menggunakan atribut-atribut Natal dan tahun baru.

"Kami mengimbau pihak mal tidak memaksa pegawainya menggunakan atribut Natal bagi yang beragama Islam karena dilarang berdasarkan fatwa MUI maupun imam empat mazhab," kata seorang anggota FPI di depan Tunjungan Plaza, Rabu, 23 Desember 2015.

BERBANDING TERBALIK DENGAN DI ARAB


Gambar. Berhenti gunakan kata haram untuk umat
Gambar. Berhenti gunakan kata haram untuk umat
Menyambut Natal, sebuah pohon terang raksasa berdiri megah di ibukota Uni Emirat Arab (UEA), Abu Dhabi. Yang membuatnya tidak biasa, pohon itu berhiaskan emas, berlian, dan batu-batu berharga lain senilai lebih dari US$11 juta, sekitar Rp99,3 miliar.
Ditanya, apakah pemasangan pohon terang itu bisa menyinggung sentimen rakyat UEA, yang hampir semuanya Muslim, Olbertz menepis kekhawatiran itu. "Ini adalah negara yang sangat liberal," kata Olbertz. (kd) 

Di arab yang hampir semua berpenduduk Muslim,bisa menghargai umat lain,kenapa indonesia tidak??Mungkin indonesia banyak dimasuki oknum-oknum
Marilah kita Menghargai perbedaan dantoleransi. "STOP PENGGUNAAN KATA HARAM UNTUK UMAT LAIN"



Gus Dur Mengatakan:
“Kita Hanya akan mampu menjadi bangsa yang kukuh, kalau umat agama-agama yang berbeda dapat saling mengerti satu sama lain, bukan hanya sekedar saling menghormati. Yang diperlukan adalah rasa saling memiliki (sense of belonging), bukannya hanya saling bertenggang rasa satu terhadap yang lain”